Mereka Yang Di Tepi (kan) 2

 


Mereka Yang Di Tepi (kan) 2
Anak & Perempuan di Lautan

Mereka meninggalkan kampung halamannya yang bergolak, berjejal di perahu-perahu kayu, dalam malam-malam yang gelap. Ada yang berbekal sejumput beras dan sedikit air, tapi banyak juga yang hanya bermodalkan pakaian yang melekat di badan. Dan berpuluh-puluh do’a, tentunya.

Tanah asal mereka, Rakhine, sekeping tanah di bagian Barat Laut negara Myanmar tak kunjung reda dari kebencian antar ras dan agama. Mereka Rohingya, suku minoritas di Myanmar yang hampir seluruhnya beragama Islam, terpaksa meninggalkan kampung-kampung mereka yang musnah oleh api kemarahan dan gelombang kematian.

Tak ada daratan yang menjadi tujuan pasti, yang disadari hanyalah bergerak ke depan jauh lebih baik daripada kembali. Negeri itu tidak menginginkan mereka, bahkan tidak untuk memberikan pengakuan kewarganegaraan, meski secara turun temurun mereka telah mendiami daratan itu. Di bumi luas yang entah milik siapa ini, mereka menjadi manusia tanpa tanah air.

Arakan Project – sebuah lembaga yang konsen melakukan pendataan terhadap nasib orang-orang Rohingya selama bertahun-tahun, menyebutkan anak-anak dan perempuan adalah 5-15 persen dari 75.000 orang Rohingya yang melarikan diri sejak kekerasan kembali meletus pada pertengahan Juni 2012 lalu.

Dalam perjalanan2 yang penuh mara bahaya itu; berlayar berhari-hari bahkan berminggu-minggu dengan kapal kayu yang kelebihan muatan, kehabisan makanan dan minuman, mendarat di negeri yang tak ramah, diperkirakan ribuan orang telah tewas atau hilang.
Senwara Begum (9 tahun), gadis kecil yang ikut berjejal di kapal kayu bersama abangnya Mohamad Husein (15 tahun) berulang-ulang meminum air laut dan karenanya menderita diare, sebelum akhirnya tiba di daratan Sumatera pada hari ke 23 sejak pelarian mereka dari Rakhine, Myanmar. . Bersama 62 orang lainnya yang terdiri dari 14 anak-anak, 10 perempuan (1 diantaranya hamil 7 bulan), dia diselamatan oleh Nelayan Indonesia di satu pagi yang dingin di pesisir laut Aceh.

Di pusat-pusat penampungan untuk imigran di Medan, di bawah kerjasama pemerintah Indonesia dan PBB, kini mereka terus menunggu ke negara mana akan ditempatkan, berharap negara-negara impian bersedia menerima.

Binsar Bakkara, Sumatra Images

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>